Laman

Jumat, 28 Juni 2013

Memeluk Rindu Sendirian :''')

Dulu ketika rindu menyerang dengan mudahnya bisa diungkapkan. Kita saling menyampaikan lewat sebuah pesan bahkan saling melempar kode untuk kemudian diterjemahkan. Setelah kode terpecahkan kita berjanji untuk saling bertemu dan segera melepas rasa itu. Sepertinya baru kemarin rindu itu kita peluk bersamaan tapi setelah kita putus aku mulai memeluk rindu sendirian. Rasanya kosong bahkan ketika menghirup dan menarik nafas panjang untuk kemudian dikeluarkan pun terasa sesak. Ini tidak berlebihan. Ini kenyataan.

Dalam diamku aku masih sering merindukanmu. Dalam diamku aku masih sering menginginkanmu. Dalam diamku aku masih sering memikirkanmu. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana hari-harimu sekarang? Apakah lebih menyenangkan? Apa kau menikmati kebebasanmu? Atau bahkan sudah menemukan gadis lain yang lebih kau cintai? Atau mungkin kau mulai merindukan kehadiranku? Merindukan kecemburuanku? Atau bahkan merindukan manjaku? Semoga di dalam hari-harimu masih ada kenangan tentangku dan cinta untukku walaupun porsinya tidak lagi sama seperti dulu.

Aku masih malu untuk mengakui bahwa aku masih cinta. Aku masih malu untuk mengakui bahwa aku masih sayang. Aku masih malu untuk mengakui bahwa aku masih suka. Semuanya terhalang oleh sebuah tembok yang tinggi menjulang yang kini menjadi sekat untuk melawan perasaan. Dalam fikiranku kau masih menjadi peringkat nomor satu yang tidak pernah berhenti berlari dan bergentayangan walaupun aku selalu mencoba untuk tidak menyangkutpautkan hal-hal kecil dengan dirimu. Sulit untuk tetap berpura-pura tegar padahal sebenarnya jika disentuh sangatlah rapuh.

Apakah masih ada aku di dalam ingatanmu? Apakah masih ada aku di dalam mimpi indahmu? Apakah masih ada aku di dalam renungan malammu? Apakah masih ada aku di dalam sifat cuekmu? Apakah masih ada aku di dalam diammu? Apakah masih ada aku di dalam do'amu? Apakah masih ada aku di dalam langkahmu? Apakah masih ada aku di dalam hatimu?

Aku lelah bersikap seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Aku lelah bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku lelah bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku lelah bersikap seolah-olah aku tidak memikirkanmu. Aku lelah bersikap seolah-olah aku tidak merindukanmu. Aku lelah menyembunyikan berjuta-juta rasa sakit di balik senyum palsu yang orang lain tidak ingin tahu. Aku lelah harus berpura-pura sudah tidak cinta. Aku lelah harus berpura-pura tidak bahagia saat pesanmu menggetarkan handphoneku. Aku lelah harus berpura-pura cuek. Aku lelah. Aku lelah. Dan kau pun tidak ingin megulurkan tangan untuk sekedar membangunkan.

Aku kurang menyukai malam karena semua tentangmu selalu aku rindukan. Karena di dalam keheningan malam aku masih sering memikirkanmu, merindukanmu, bahkan mengingat betapa manisnya kita dulu. Dan sesungguhnya aku belum bisa memeluk rindu sendirian. Aku masih kecanduan kamu. 

2 komentar: