Laman

Minggu, 26 Agustus 2018

Dia adalah Iqbalku


”Kita akan sampai pada titik dimana akhirnya saling meninggalkan.
Bisa karena dipaksa, terpaksa, atau memang harus.
Tidak sekarang.
Mungkin nanti, entah kapan.”

Dan akhirnya, ya memang akhirnya; kami sampai pada titik dimana harus saling melepaskan. Bukan karena ingin, tapi memang harus. Sepenggal puisi yang kutulis beberapa bulan lalu telah tiba pada waktunya. Pendaratannya berakhir di malam 20 Agustus 2018.

Aku mencintai pria ini beserta segala hal yang melekat di dirinya.
Aku mencintai gayanya yang ”slengean”, cara bicaranya yang selalu menggunakan kalimat-kalimat mematikan, atau ke-tidak-jelasan perilakunya. Aku mencintai pria bernama Muhammad Iqbal.

Dia adalah Iqbalku.
Dia sahabatku.
Dan jika kau ingin tahu tentang isi hatiku; mengenai luka sampai ke jatuh cintanya, tanya saja Iqbal.

Dia adalah Iqbalku.
Aku meng-klaim dia milikku karena aku mencintainya.
Berkali-kali aku sampaikan bahwa aku mencintai pria ini. Pria yang kukenal dari seseorang yang dulu menjadi tempat aku berlabuh.

Ibang, mengenalmu aku tidak pernah menyesal. Bahkan di detik-detik terakhir keputusan kita, aku berusaha untuk tidak menyesal di kemudian hari. Namun jika suatu hari penyesalan itu datang, aku akan tetap berterima kasih karena bagaimanapun kita harus siap menerima risiko.

Ibang, sejujurnya aku tidak ingin meninggalkanmu. Bahkan membatalkan semua rencana-rencana yang sudah dibuat. Namun, biarlah ini menjadi renungan bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, harus siap mengorbankan sesuatu yang lain.

Dia adalah Iqbalku.
Pria yang akan aku kenalkan kepada seseorang yang nantinya akan mendampingiku seumur hidupnya. Pria yang aku tahu sekalipun kami berjauhan, namaku selalu ada di deretan doa-doanya. Pria yang akan aku cari telinganya saat orang lain terlampau bosan mendengar ceritaku yang ”itu-itu aja”.
Pria yang suatu hari nanti akan aku banggakan kepada buah hati bahwa memilikinya adalah sebuah harta yang tidak ternilai.

Perjalanan kami tidak selalu mulus. Di langkah pertama, kami akan selalu antusias. Namun ketika sampai di pertengahan, ada saja kerikil yang ditemui. Hingga sampailah pada titik akhir dimana aku selalu jadi pihak yang banyak sekali drama. Dan dia ada di pihak yang selalu sabar dan menikmati setiap episode dalam drama-drama tersebut. Oh God... Aku begitu mencintai pria ini!!!!!

Ibang, tidak banyak harapan dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain selain tetaplah berbahagia dimanapun serta bagaimanapun caranya. Sekalipun suatu saat nanti kita sudah tidak bertukar kabar, kau harus tetap menjaga dirimu baik-baik karena aku sangat ingin melihatmu jatuh ke pelukan seseorang yang baik pula. Aku ingin kau menikmati waktu-waktu yang tersisa bersama seseorang yang menyayangimu dengan sangat. Aku ingin di masa yang akan datang, rumahku menjadi tempat kita bertemu dan menjelek-jelekan satu sama lain di depan pasangan masing-masing. Aku ingin anak-anak kita nanti menjadi aku dan kamu yang sekarang di kemudian hari.

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan sampai hari ini. Maaf aku belum bisa menjadi orang yang menyamankanmu. Maaf aku juga belum bisa menjadi tempatmu menaruh cerita-cerita bahagia atau duka. Maaf aku belum menjadi baik yang memperbaikimu. Dan maaf karena dengan hanya menulis ini saja aku kembali menjatuhkan air mata.

Aku rindu, bang.