”Kita akan
sampai pada titik dimana akhirnya saling meninggalkan.
Bisa
karena dipaksa, terpaksa, atau memang harus.
Tidak
sekarang.
Mungkin
nanti, entah kapan.”
Dan
akhirnya, ya memang akhirnya; kami sampai pada titik dimana harus saling
melepaskan. Bukan karena ingin, tapi memang harus. Sepenggal puisi yang kutulis
beberapa bulan lalu telah tiba pada waktunya. Pendaratannya berakhir di malam
20 Agustus 2018.
Aku
mencintai pria ini beserta segala hal yang melekat di dirinya.
Aku
mencintai gayanya yang ”slengean”, cara bicaranya yang selalu menggunakan
kalimat-kalimat mematikan, atau ke-tidak-jelasan perilakunya. Aku mencintai pria
bernama Muhammad Iqbal.
Dia adalah
Iqbalku.
Dia
sahabatku.
Dan jika
kau ingin tahu tentang isi hatiku; mengenai luka sampai ke jatuh cintanya, tanya saja Iqbal.
Dia adalah
Iqbalku.
Aku
meng-klaim dia milikku karena aku mencintainya.
Berkali-kali
aku sampaikan bahwa aku mencintai pria ini. Pria yang kukenal dari seseorang
yang dulu menjadi tempat aku berlabuh.
Ibang, mengenalmu
aku tidak pernah menyesal. Bahkan di detik-detik terakhir keputusan kita, aku
berusaha untuk tidak menyesal di kemudian hari. Namun jika suatu hari
penyesalan itu datang, aku akan tetap berterima kasih karena bagaimanapun kita harus
siap menerima risiko.
Ibang,
sejujurnya aku tidak ingin meninggalkanmu. Bahkan membatalkan semua
rencana-rencana yang sudah dibuat. Namun, biarlah ini menjadi renungan bahwa
ketika kita menginginkan sesuatu, harus siap mengorbankan sesuatu yang lain.
Dia adalah
Iqbalku.
Pria yang
akan aku kenalkan kepada seseorang yang nantinya akan mendampingiku seumur
hidupnya. Pria yang aku tahu sekalipun kami berjauhan, namaku selalu ada di
deretan doa-doanya. Pria yang akan aku cari telinganya saat orang lain
terlampau bosan mendengar ceritaku yang ”itu-itu aja”.
Pria yang
suatu hari nanti akan aku banggakan kepada buah hati bahwa memilikinya adalah
sebuah harta yang tidak ternilai.
Perjalanan
kami tidak selalu mulus. Di langkah pertama, kami akan selalu antusias. Namun
ketika sampai di pertengahan, ada saja kerikil yang ditemui. Hingga sampailah
pada titik akhir dimana aku selalu jadi pihak yang banyak sekali drama. Dan dia
ada di pihak yang selalu sabar dan menikmati setiap episode dalam drama-drama
tersebut. Oh God... Aku begitu mencintai pria ini!!!!!
Ibang, tidak
banyak harapan dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain selain tetaplah
berbahagia dimanapun serta bagaimanapun caranya. Sekalipun suatu saat nanti
kita sudah tidak bertukar kabar, kau harus tetap menjaga dirimu baik-baik karena
aku sangat ingin melihatmu jatuh ke pelukan seseorang yang baik pula. Aku ingin
kau menikmati waktu-waktu yang tersisa bersama seseorang yang menyayangimu
dengan sangat. Aku ingin di masa yang akan datang, rumahku menjadi tempat kita
bertemu dan menjelek-jelekan satu sama lain di depan pasangan masing-masing. Aku
ingin anak-anak kita nanti menjadi aku dan kamu yang sekarang di kemudian hari.
Terima
kasih untuk semua yang telah kau berikan sampai hari ini. Maaf aku belum bisa
menjadi orang yang menyamankanmu. Maaf aku juga belum bisa menjadi tempatmu
menaruh cerita-cerita bahagia atau duka. Maaf aku belum menjadi baik yang
memperbaikimu. Dan maaf karena dengan hanya menulis ini saja aku kembali
menjatuhkan air mata.
Aku rindu,
bang.