Laman

Minggu, 05 Mei 2019

Untuk Pria di Kota Pahlawan

Aku tidak pernah mencarimu,
mengingat kau sempat ada pun tidak,
namun waktu menunjukkan kuasanya,
pria yang kukenal sembilan tahun lalu, kutemukan lagi sembilan tahun kemudian.


Perjalananku menyelamimu ternyata tak sederhana,
aku tidak tahu bagaimana kau tumbuh,
aku juga tidak tahu masa lalu seperti apa yang akhirnya mendewasakanmu,
pun juga tidak tahu perjuangan yang kau lewati hingga menjadikanmu kau di hari ini.

Aku tidak tahu, tapi aku ingin tahu.


Kau berhasil membuka pintu yang kututup rapat selama bertahun-tahun,

lalu membunuh ketakutan-ketakutan yang sebelumnya kubuat sendiri.

Kau juga berhasil menarikku keluar dari tempat yang sudah lama ingin kutinggalkan,
mengulurkan tangan, menawarkan bantuan, mengobati hingga sembuhlah aku.


Kepada kau,
selamat datang kembali,
terima kasih telah memperlakukanku sebaik ini,
terima kasih untuk hari-hari yang dengan atau tanpamu,
terima kasih karena karenamu aku mau berusaha dan berjuang lagi.


Aku ingin menujumu tanpa tergesa,
aku ingin dijemputmu tidak buru-buru,
lewat cara yang tidak bisa kueja dengan kata-kata,
lewat perasaan yang tidak pernah cukup diterjemahkan oleh rasa syukur.


Terlepas akhirnya bersamaku atau tidak, 
yang kutahu, menemukan dan ditemukanmu adalah hal yang sangat mengagumkan,
dan kupastikan kau akan kukenang sebagai sesuatu yang paling menyenangkan.


Untuk pria di Kota Pahlawan, 
kau tidak perlu menjadi siapapun,
menjadi superhero yang menyelamatkan dunia sekalipun.
Karena aku jatuh cinta pada kau yang sebenar-benarnya engkau.

Minggu, 26 Agustus 2018

Dia adalah Iqbalku


”Kita akan sampai pada titik dimana akhirnya saling meninggalkan.
Bisa karena dipaksa, terpaksa, atau memang harus.
Tidak sekarang.
Mungkin nanti, entah kapan.”

Dan akhirnya, ya memang akhirnya; kami sampai pada titik dimana harus saling melepaskan. Bukan karena ingin, tapi memang harus. Sepenggal puisi yang kutulis beberapa bulan lalu telah tiba pada waktunya. Pendaratannya berakhir di malam 20 Agustus 2018.

Aku mencintai pria ini beserta segala hal yang melekat di dirinya.
Aku mencintai gayanya yang ”slengean”, cara bicaranya yang selalu menggunakan kalimat-kalimat mematikan, atau ke-tidak-jelasan perilakunya. Aku mencintai pria bernama Muhammad Iqbal.

Dia adalah Iqbalku.
Dia sahabatku.
Dan jika kau ingin tahu tentang isi hatiku; mengenai luka sampai ke jatuh cintanya, tanya saja Iqbal.

Dia adalah Iqbalku.
Aku meng-klaim dia milikku karena aku mencintainya.
Berkali-kali aku sampaikan bahwa aku mencintai pria ini. Pria yang kukenal dari seseorang yang dulu menjadi tempat aku berlabuh.

Ibang, mengenalmu aku tidak pernah menyesal. Bahkan di detik-detik terakhir keputusan kita, aku berusaha untuk tidak menyesal di kemudian hari. Namun jika suatu hari penyesalan itu datang, aku akan tetap berterima kasih karena bagaimanapun kita harus siap menerima risiko.

Ibang, sejujurnya aku tidak ingin meninggalkanmu. Bahkan membatalkan semua rencana-rencana yang sudah dibuat. Namun, biarlah ini menjadi renungan bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, harus siap mengorbankan sesuatu yang lain.

Dia adalah Iqbalku.
Pria yang akan aku kenalkan kepada seseorang yang nantinya akan mendampingiku seumur hidupnya. Pria yang aku tahu sekalipun kami berjauhan, namaku selalu ada di deretan doa-doanya. Pria yang akan aku cari telinganya saat orang lain terlampau bosan mendengar ceritaku yang ”itu-itu aja”.
Pria yang suatu hari nanti akan aku banggakan kepada buah hati bahwa memilikinya adalah sebuah harta yang tidak ternilai.

Perjalanan kami tidak selalu mulus. Di langkah pertama, kami akan selalu antusias. Namun ketika sampai di pertengahan, ada saja kerikil yang ditemui. Hingga sampailah pada titik akhir dimana aku selalu jadi pihak yang banyak sekali drama. Dan dia ada di pihak yang selalu sabar dan menikmati setiap episode dalam drama-drama tersebut. Oh God... Aku begitu mencintai pria ini!!!!!

Ibang, tidak banyak harapan dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain selain tetaplah berbahagia dimanapun serta bagaimanapun caranya. Sekalipun suatu saat nanti kita sudah tidak bertukar kabar, kau harus tetap menjaga dirimu baik-baik karena aku sangat ingin melihatmu jatuh ke pelukan seseorang yang baik pula. Aku ingin kau menikmati waktu-waktu yang tersisa bersama seseorang yang menyayangimu dengan sangat. Aku ingin di masa yang akan datang, rumahku menjadi tempat kita bertemu dan menjelek-jelekan satu sama lain di depan pasangan masing-masing. Aku ingin anak-anak kita nanti menjadi aku dan kamu yang sekarang di kemudian hari.

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan sampai hari ini. Maaf aku belum bisa menjadi orang yang menyamankanmu. Maaf aku juga belum bisa menjadi tempatmu menaruh cerita-cerita bahagia atau duka. Maaf aku belum menjadi baik yang memperbaikimu. Dan maaf karena dengan hanya menulis ini saja aku kembali menjatuhkan air mata.

Aku rindu, bang.






Selasa, 31 Juli 2018

Dear, Tessa Anjani Terecia


”Hari ini, hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu”

Sepenggal lirik lagu di atas pasti kau temui di hari ini; hari ulang tahunmu. J

Dik, tepat 22 tahun lalu, ibumu sedang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian Ia namai Tessa Anjani Terecia. Ada harapan yang orang tuamu selipkan di sela-sela nama yang mereka beri. Karena seiring dengan pemberian nama yang indah, datang pula keinginan-keinginan yang baik.

31 Juli 2018

Ulang tahun adalah momen untuk merenung. Pasalnya, esensi dari hari lahir adalah berkurangnya jatah umur di dunia. Tapi, mari jadikan ulang tahun sebagai momen untuk bersyukur. Bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Dik, di umurmu yang angkanya semakin bertambah ini, sebenarnya kita sedang mengantre untuk dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tugas kita hanya satu, menjadi pribadi yang lebih baik di setiap harinya.

Dik, semoga dengan bertambahnya angka pada usiamu, membuat kau semakin dewasa dan memiliki kerendahan hati untuk kemudian menjadi senjata dalam hidupmu. Untuk segala kemungkinan yang terjadi, biarlah Allah menyimpan kemungkinan itu rapat-rapat dalam jemari-Nya yang penuh kuasa. Semoga Allah mengabulkan semua rencana bahagiamu, semoga kau menjadi yang patut dibanggakan oleh siapapun; terutama kedua orang tua juga keluargamu. Dan semoga kau tetap menjadi adik yang “rupa-rupa warnanya” untuk aku.

Dik, perjalananmu ke depan akan lebih dari yang sudah-sudah. Perjalanan yang akan kau lalui setelah ini akan menjadi perjalanan yang lebih hebat dari yang pernah kau lakukan sebelumnya. Segala sesuatu yang telah kau usahakan, apa yang telah kau upayakan, akan jauh lebih bijaksana dari apa yang pernah kau lakukan di masa lalu. Karena disadari atau tidak, kau telah melalui tahap yang sebenarnya dulu tidak pernah bisa kau yakini.

Dik, tetaplah menjadi pribadi yang menyenangkan tanpa perlu menjadi orang lain. Tetaplah menjadi wanita yang kuat sekalipun hantaman kau rasakan dari kedua sisi. Teraplah menjadi seseorang yang pandai bersyukur walaupun kau sedang dalam keadaan tersulitmu. Dan tetaplah menjadi Tessa Anjani Terecia yang aku kenal, tanpa menambah atau mengurangi hal-hal baik juga buruk dalam dirimu. Aku mencintaimu, yang apa adanya.

Dik, terima kasih karena sudah tumbuh menjadi seseorang yang mengagumkan. Terima kasih karena sudah menjadi se-menyenangkan ini. Terima kasih karena sudah menjadi Tessa Anjani Terecia.

Selamat ulang tahun, dik. Maaf karena bukan dengan kue aku rayakan harimu, bukan dengan hadiah mewah aku selamatkan harimu, bukan pula dengan balon aku terbangkan harimu. Melalui jejak digital ini, seluruh doa-doa kepadamu akan dengan serius aku aamiin-kan.

HAPPY BIRTHDAY, ADIKKU SAYANG!!!!! *KISS* *HUG*





Minggu, 09 April 2017

Lika Liku Laki-laki

Perjalanannya menemukanmu tak pernah sesulit ini
bahkan ia tak pernah menyangka bisa sampai ke tahap yang sebelumnya tidak pernah ia yakini.

Kemarin ia bercerita,
ia pernah menujumu dengan tergesa-gesa
namun bukan kau yang didapatkan, lebih besar dari itu.
Penolakan!

Ia kau anggap berlebihan,
terlalu menunjukkan ketertarikan,
dan semua anggapan-anggapan yang berterbangan di kepalamu.

Belajarnya ia setiap hari dengan hati yang berhati-hati
Dilatih,
dididik,
ditempa,
hingga tumbuh menjadi kuat.

Kali ini, bercerita ia dengan antusias
menujumu haruslah perlahan-lahan, katanya.
Perlahan menyelami kisahmu, perlahan meramu gerakmu hingga dengan perlahan
kau pun jatuh di pelukannya.

Perjuangannya memperjuangkanmu tidak pernah ia hitung
Keinginannya sangatlah sederhana,
melihatmu tersenyum dan memastikan keadaanmu baik-baik saja.

Itulah sepenggal kisah tentang laki-laki yang menunggumu
di tempat yang tidak pernah kau hampiri.

Tapi dengan senang hati memasang badan ketika kau tersakiti :)

Kamis, 28 Juli 2016

Kalah (2)

Ditinggalkanmu..
Jadi bagian yang paling diingat
Untuk kemudian tahu diri
Melangkah
Dan pergi


----------

Pada akhirnya aku memang harus kalah
Kau telah dipersiapkan untuk seseorang
Yang lebih baik dari aku

Dulu, kau telah berkelana kesana kemari
Hinggap disana sini
Bermain di banyak hati
Sampai kau sadar, kau harus memperbaiki

Dulu juga, kau suka berulah
Tidak tahu aturan
Laki-laki nakal di masanya
Sampai kau sadar, kau tak perlu mengulangi

Kali ini, aku sudah harus kalah
Aku gagal menjadi pelabuhan terakhir
Aku masih menjadi bandara
Yang dijadikan tempat singgah

Malam ini, aku kalah
Oleh mimpi yang kubuat sendiri

Dan satu-satunya yang membuat aku menang
Hanya doa pada Tuhan tentangmu
Yang kupanjatkan sembari mengangkat tangan sejajar dada
Kadang diiringi air mata haru
Bersungguh-sungguh penuh harap
Atau berusaha untuk ikhlas

Aku kalah..


----------

Malam hari, seraya menghargai sepi :)

Rabu, 27 Juli 2016

Kalah (1)

Detik ini aku sadar bahwa aku kalah
Ketika membiarkanmu pergi tanpa aku tahan-tahan
Melihatmu berbalik
Berjalan tanpa henti
Seolah memang pasti

Aku mengaku bahwa aku kalah lagi
Ketika membiarkanmu berlalu tanpa aku kejar
Melihatmu menjauh
Berlari melawan perih
Dengan tubuh ringkih

Aku mengaku bahwa lagi-lagi aku kalah
Ketika membiarkanmu hilang tanpa aku cari
Menjadi samar
Sampai aku sadar
Kau jadi tak terdefinisi

Aku mengaku bahwa aku akan tetap kalah
Bagaimanapun akan selalu kalah
Oleh perasaanku yang selalu membiarkanmu


----------
Bandung, sambil mendengar lagu Rio Febrian - Maafkan

Maaf..
Maafkan diriku
Yang telah membuat
Hatimu terluka
Hanya kau cintaku
Kutak pernah pikir
Untuk pergi darimu
Walau hanya sekejap saja

Sabtu, 16 Juli 2016

Hari Sabtu

Kita pernah berdialog. Kira-kira begini...




* : Aku selalu suka Hari Sabtu
** : Pasti karena aku pulang yah?
* : Iya :)
** : Tapi akukan gak setiap minggu pulang
* : Yang penting aku bisa tau kegiatan kamu di hari itu :)
** : Ahhhh.. jadi kangen


Begitu..


Aku tetap menunggu Hari Sabtu, namun sekarang berbeda. Untuk bertemu sahabatku. Bukan lagi kamu :)