Tuan, apa kau pernah merasakan mencintai
seseorang begitu dalam? Apa kau pernah merasakan mencintai seseorang begitu
tulus? Apa kau pernah merasakan mencintai seseorang begitu ikhlas? Belum
pernahkah tuan? Jika iya belajarlah dari sekarang untuk kemudian menyadari bagaimana rasanya tidak dihargai
dan rasanya diacuhkan.
Tuan pernahkah kau berfikir bagaimana
rasanya menjadi seseorang yang harus berusaha melawan perasaannya dengan cara
berkawan dengan keadaan, meskipun segala hal yang terlewatkan tidak sesuai
dengan apa yang diinginkan? Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi
seseorang yang berusaha tersenyum walaupun terlalu sering disakiti? Pernahkah
kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berusaha ikhlas ketika
kau menemukan kebahagiaanmu walaupun alasan kebahagiaanmu bukan dia? Pernahkah
kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang harus berusaha berdiri
ketika semua usahanya dipandang sebelah mata? Pernahkah kau berfikir bagaimana
rasanya menjadi seseorang yang berusaha benci pada dirinya sendiri karena
kegagalannya dalam membencimu? Belum pernahkah tuan? Jika iya belajarlah dari
sekarang untuk kemudian menyadari bagaimana
rasanya tidak digubris dan rasanya diabaikan.
Tulisan ini mungkin akan menjadi tulisan
yang tidak kau baca sampai akhir . Bukan begitu tuan? Mengapa? Apa kau merasa
sempurna sehingga untuk menghargai saja terasa begitu sulit? Apa kau merasa
segala-galanya sehingga untuk menoleh saja rasanya begitu berat? Apa kau merasa
kau selalu benar sehingga untuk merendah saja rasanya begitu tabu?
Tuan lihatlah dirimu. Kepada siapa dulu dirimu berlabuh, kepada siapa dulu
dirimu merengkuh, dan kepada siapa dulu dirimu bertaruh. Semudah itukah kau
menghapus semua dari ingatan, kenangan, dan hatimu?
Tuan, diluar sana ada seseorang yang rela
berjuang untukmu. Ada seseorang yang rela mengorbankan waktunya demi melihat
senyummu. Ada seseorang yang rela dijadikan nomor sekian ketika kau berada
dengan teman-temanmu. Ada seseorang yang rela menunggumu sampai larut malam
ketika dirimu membanting tulang untuk kebutuhan hidup, walaupun kau meninggalkannya
tanpa sepatah kata. Ada seseorang yang rela menyelipkan namamu dalam setiap
do'anya untuk kemudian Tuhan persatukan menjadi kita. Ada seseorang yang rela
mengeluarkan air matanya hanya untuk menangisimu. Ada seseorang yang rela
disakiti berkali-kali hanya karena ingin menujukkan bahwa ia kuat dihadapanmu.
Ada seseorang yang rela merekam semua janji palsumu dengan harapan dapat
terwujud di kemudian hari. Ada seseorang yang rela untuk pindah dari hatimu
karena kau yang memaksanya. Ada Tuan. Lihat Tuan! Sesulit itukah kau untuk membuka
mata?
Tuan apa kau tau bahwa ada tangan
seseorang yang kosong yang sebenarnya ingin menggenggam jemari tanganmu untuk
kemudian mengajakmu menuju jalan kesuksesan? Apa kau tau bahwa ada bahu
seseorang yang kekar yang sebenarnya ingin menyandarkan kepalamu untuk kemudian
menuntunmu menuju gerbang kesuksesan? Apa kau tau bahwa ada pundak seseorang
yang kuat yang sebenarnya ingin merebahkanmu untuk kemudian mengantarkanmu
menuju pintu kesuksesan?
Yakinkah kau untuk menemukan jalan itu
sendirian? Yakinkah kau untuk menemukan gerbang itu sendirian? Yakinkah kau
untuk menemukan pintu itu sendirian? Jika iya maka lakukanlah. Jika tidak maka berbaliklah karena seseorang itu masih mau
mengajakmu, menuntunmu, dan megantarkanmu menuju titik akhir sebuah kata
sukses.
Untuk tuan yang berhati batu, meninggalkan
seseorang untuk meraih sukses itu mungkin menurutmu benar namun ada orang lain
di luar sana yang lebih menghargai seseorang yang dicintainya dengan cara
mengajaknya, menuntunnya, dan mengantarkannya menuju sukses secara bersamaan
sehingga hasilnya bisa dipetik berdua. Tuan mungkin kau akan membenci tulisan
ini, tapi sejenak coba
renungkan apa yang telah kau putuskan karena sesuatu bernama penyesalan selalu
datang belakangan.
Tuan, aku hanya mengintakan, selanjutnya
kau yang memiliki tindakan. Maap jika aku keterlaluan. :''')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar