Laman

Selasa, 09 Juli 2013

Untuk Tuan Yang Berhati Batu

Tuan, apa kau pernah merasakan mencintai seseorang begitu dalam? Apa kau pernah merasakan mencintai seseorang begitu tulus? Apa kau pernah merasakan mencintai seseorang begitu ikhlas? Belum pernahkah tuan? Jika iya belajarlah dari sekarang untuk kemudian menyadari bagaimana rasanya tidak dihargai dan rasanya diacuhkan.

Tuan pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang harus berusaha melawan perasaannya dengan cara berkawan dengan keadaan, meskipun segala hal yang terlewatkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan? Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berusaha tersenyum walaupun terlalu sering disakiti? Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berusaha ikhlas ketika kau menemukan kebahagiaanmu walaupun alasan kebahagiaanmu bukan dia? Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang harus berusaha berdiri ketika semua usahanya dipandang sebelah mata? Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berusaha benci pada dirinya sendiri karena kegagalannya dalam membencimu? Belum pernahkah tuan? Jika iya belajarlah dari sekarang untuk kemudian menyadari bagaimana rasanya tidak digubris dan rasanya diabaikan.

Tulisan ini mungkin akan menjadi tulisan yang tidak kau baca sampai akhir . Bukan begitu tuan? Mengapa? Apa kau merasa sempurna sehingga untuk menghargai saja terasa begitu sulit? Apa kau merasa segala-galanya sehingga untuk menoleh saja rasanya begitu berat? Apa kau merasa kau selalu benar sehingga untuk merendah saja rasanya begitu tabu? Tuan lihatlah dirimu. Kepada siapa dulu dirimu berlabuh, kepada siapa dulu dirimu merengkuh, dan kepada siapa dulu dirimu bertaruh. Semudah itukah kau menghapus semua dari ingatan, kenangan, dan hatimu?

Tuan, diluar sana ada seseorang yang rela berjuang untukmu. Ada seseorang yang rela mengorbankan waktunya demi melihat senyummu. Ada seseorang yang rela dijadikan nomor sekian ketika kau berada dengan teman-temanmu. Ada seseorang yang rela menunggumu sampai larut malam ketika dirimu membanting tulang untuk kebutuhan hidup, walaupun kau meninggalkannya tanpa sepatah kata. Ada seseorang yang rela menyelipkan namamu dalam setiap do'anya untuk kemudian Tuhan persatukan menjadi kita. Ada seseorang yang rela mengeluarkan air matanya hanya untuk menangisimu. Ada seseorang yang rela disakiti berkali-kali hanya karena ingin menujukkan bahwa ia kuat dihadapanmu. Ada seseorang yang rela merekam semua janji palsumu dengan harapan dapat terwujud di kemudian hari. Ada seseorang yang rela untuk pindah dari hatimu karena kau yang memaksanya. Ada Tuan. Lihat Tuan! Sesulit itukah kau untuk membuka mata?

Tuan apa kau tau bahwa ada tangan seseorang yang kosong yang sebenarnya ingin menggenggam jemari tanganmu untuk kemudian mengajakmu menuju jalan kesuksesan? Apa kau tau bahwa ada bahu seseorang yang kekar yang sebenarnya ingin menyandarkan kepalamu untuk kemudian menuntunmu menuju gerbang kesuksesan? Apa kau tau bahwa ada pundak seseorang yang kuat yang sebenarnya ingin merebahkanmu untuk kemudian mengantarkanmu menuju pintu kesuksesan?

Yakinkah kau untuk menemukan jalan itu sendirian? Yakinkah kau untuk menemukan gerbang itu sendirian? Yakinkah kau untuk menemukan pintu itu sendirian? Jika iya maka lakukanlah. Jika tidak maka berbaliklah karena seseorang itu masih mau mengajakmu, menuntunmu, dan megantarkanmu menuju titik akhir sebuah kata sukses.

Untuk tuan yang berhati batu, meninggalkan seseorang untuk meraih sukses itu mungkin menurutmu benar namun ada orang lain di luar sana yang lebih menghargai seseorang yang dicintainya dengan cara mengajaknya, menuntunnya, dan mengantarkannya menuju sukses secara bersamaan sehingga hasilnya bisa dipetik berdua. Tuan mungkin kau akan membenci tulisan ini, tapi sejenak coba renungkan apa yang telah kau putuskan karena sesuatu bernama penyesalan selalu datang belakangan.

Tuan, aku hanya mengintakan, selanjutnya kau yang memiliki tindakan. Maap jika aku keterlaluan. :''')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar